Tuesday, March 28, 2017

Keistimewaan Ilmu Tajwid

Al-Quran adalah kalâmullâh yang suci yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril  untuk disampaikan kepada umatnya. Al-Quran diturunkan bersama dengan Tajwidnya. Sebagaimana firman Allah , Dan bacalah Al-Quran dengan secara tartîl.” (QS. 73:4). Menurut sayidina Ali, makna tartîl di sini adalah membaca Al-Quran disertai dengan tajwid hurufnya (makhraj dan sifat) dan mengetahui wakafnya. Inilah yang menunjukkan bahwa Al-Quran diturunkan bersama dengan 
tajwidnya.



Mengenal Ilmu tajwid
Tajwid secara bahasa berarti at-tahsîn (memperindah). Adapun secara istilah adalah mengeluarkan setiap huruf dari makhrajnya sesuai dengan haq dan mustahaqnya." (Maksudnya, sesuai dengan sifat asli huruf, seperti jahr dan isti'lâ, dan sifat yang nampak sewaktu-waktu, seperti tafkhim dan ikhfa).

Dari pengertian di atas, jelaslah bahwa tujuan dan manfaat ilmu tajwid antara lain untuk menjaga lisan dari kesalahan pengucapan huruf di dalam Al-Quran sehingga menjadi bacaan yang mutqin dan fashîh sesuai dengan bacaan Rasulullah yang afshoh. Dengan Tajwid, bacaan Al-Quran juga akan bernilai ibadah dan mendapatkan keberkahan dari Allah sebagaimana perkataan Ibn Al-Jazary,

من يحسن التجويد يظفر بالرشد

Orang yang pertama kali menerapkan ilmu Tajwid secara praktek adalah Nabi Muhammad. Adapun yang menyusunnya secara teori, ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan Khalil bin Ahmad Al-Farahidi. Ada juga yang mengatakan Abu Al-Aswad Ad-Duali, Hafsh bin Umar Ad-Duriy, para imam Qiroat dan lain sebagainya.

Hukum mempelajari ilmu Tajwid, ada yang mengatakan fardhu ‘ain dan ada juga yang mengatakan fardhu kifâyah. Sedangkan hukum mengamalkannya adalah fardhu ‘ain secara ittifâq.

Peran Ilmu Tajwid
Siapapun yang hendak bermuamalah dengan Al-Quran diwajibkan mempelajari ilmu Tajwid terlebih dahulu, terutama seorang mufassir. Karena di dalam ilmu ini terdapat kajian tentang waqf wa ibtida yang bisa menjembatani mufassir di dalam memahami setiap ayat Al-Quran. Begitu juga bagi pelajar ilmu Qira`at. Ia tidak akan bisa mempelajarinya sebelum menguasai ilmu Tajwid, karena ilmu Tajwid adalah bagian dari ushûl qirâ`ât. Syekh Muhammad Makki Nashiruddin Al-Jirisyi berkata, “Syarat mutlak bagi pengajar Al-Quran itu harus menguasai terlebih dahulu tiga cabang ilmu; ilmu Tajwid, ilmu Rasm Utsmâni dan ilmu Qira`at ‘Asyrah al-mutawâtirah.

Selain itu, yang paling penting dari peran ilmu Tajwid adalah bisa mengantarkan kita dalam memahami, mentadaburi dan mentafakuri Al-Quran sehingga kita bisa mengamalkan isi kandungannya dengan segenap jiwa dan raga, serta mereguk cinta, rahmat dan keberkahan dari Allah. Wallâhu a’lam.

Oleh: Fudholi Husni

Foto Ilustrasi: Goggle

Post a Comment

Start typing and press Enter to search