Friday, March 31, 2017

Pentingnya Salat Berjemaah bagi Penghafal Alquran

Salat berjemaah bukanlah hal yang asing bagi umat Islam dimana pun berada. Tak banyak yang menyadari bahwa melaksanan salat berjemaah memiliki dampak psikis bagi pribadi Muslim, terkhusus bagi penghafal Alquran.

Tidak dikatakan seorang "penuntut ilmu sejati" jika ia belum hafal Alquran. Berlandaskan dari prinsip tersebut para ulama terdahulu sudah mengajarkan bahwa Alquran adalah hal pertama yang harus ditanamkan bagi para penuntut ilmu. Sehingga pentinglah kaitannya mengamalkan salat berjemaah dengan perjalanan para penghafal Alquran. Bagaimana bisa? Berikut akan sedikit penulis uraikan besarnya kaitan antara dua hal tersebut.

Salat lima waktu merupakan amalan wajib yang terus berlangsung berulang-ulang didalam kehidupan umat Islam, mulai dari waktu Subuh, Zuhur, hingga waktu Isya. Fakta menariknya adalah setiap waktu-waktu tersebut tidak akan pernah terulang meski pun terulang. Loh kok bisa? Kita memang mengalami waktu Subuh yang sama di hari Senin dan Selasa misalnya. Namun waktu Subuh pada hari Minggu. Salat berjemaah bukanlah hal yang asing bagi umat Islam dimana pun berada. Tak banyak yang menyadari bahwa melaksanan salat berjemaah memiliki dampak psikis bagi pribadi Muslim, terkhusus bagi penghafal Alquran.

bukanlah waktu Subuh pada hari Senin. Sehingga salat berjemaah mengajarkan kita sebuah kedisiplinan untuk tepat melaksanakan sesuatu yang penting pada waktunya. Bagi penghafal al-Quran? Sudah barang tentu hal penting yang dimaksud adalah meluangkan waktu untuk bersama Alquran guna menambah hafalan baru dan mengulang-ngulang hafalan yang sebelumnya.

Jiwa seseorang yang menghadap Tuhannya sebelum salat dan sesudahnya tentu berbeda. Urusan-urusan  yang bersifat keduniawian secara alami telah menggangu kondisi kepribadian seseorang, telebih orang yang sudah dewasa. Berkata al-Ahnaf: “Orang dewasa lebih mampu menggunakan akalnya dibandingkan anak kecil, namun hatinya lebih sibuk dibandingkan anak kecil.


Setelah salat, kondisi jiwa seseorang lebih tenang, lebih jernih, lebih terarah dan lebih baik. Maka pada kondisi inilah waktu terbaik bagi seseorang penghafal Alquran untuk menghafal dan mengulang hafalan. Mereka yang tidak istiqamah di dalam salat berjemaah, juga tidak akan mampu istiqamah di dalam menghafal Alquran. Silahkan perhatikan para penghafal Alquran yang memiliki hafalan yang kuat dan istiqamah, maka kita akan menemukan bahwa mereka begitu istiqamah dalam menjalankan salat berjemaah.

Salat berjemaah seharusnya menjadi makanan pokok dan wirid bagi penghafal Alquran. Karena disanalah kesempatan emas untuk mengaplikasikan hafalannya. Menjadi seorang imam bagi orang awam. Bersyiar melalui ayat-ayat Tuhan dengan mendengungkannya bagi seluruh semesta.

Salat berjemaah juga sebagai usaha kita untuk meminta pertolongan kepada Allah ta’ala. Meminta pertolongan agar dimudahkan menghafalnya, mengulang-ngulangnya, mengaplikasikannya, agar dapat menjadi rahmat bagi semesta Alam. Alquran yang bersarang dihati para penghafalnya tentu akan membawa ketenangan bagi dirinya, dan juga bagi lingkungannya. Hal itu dapat terlihat dari akhlak, adab dan sopan santunnya ketika berinteraksi dengan lingkugannya.

Di dalam berjemaah kita akan  menjadi saling mengenal satu sama lain. Kesempatan bagi para jemaah untuk saling mencari tahu satu sama lain, serta untuk mengetahui tentang situasi dan kondisi mereka. Kita semakin dekat dengan mereka, sehingga terjadilah kunjungan kepada orang sakit, membantu orang yang membutuhkan, berbelas kasih kepada orang yang tertimpa musibah dan sebagainya. Salat berjemaah juga menjadi ajang sebagai pemersatu Umat. Karena tidak ada yg membedakan kita satu sama lain. Antara si kaya dan si miskin, yang muda belia dengan yang tua, tokoh masyarakat ataupun rakyat jelata, yang berilmu dengan yang awam.

Dengan banyaknya fadhilah (Keutamaan) para penghafal atau penjaga Alquran, mereka mendapat reminder setiap harinya melalui salat berjemaah bahwa ia dengan orang lain tak ada bedanya. Sama-sama makhluk Allah yang lemah, yang fakir, jahil, berlumuran dosa, dan tidak berdaya sama sekali dihadapan pencipta-Nya. Dengan begitu, karunia Allah berupa menghafal Alquran tidaklah menjadi kesombongan yang pantas untuk ditunjukkan dihadapan orang lain.

Dengan salat berjemaah kita menyadari akan kebutuhan sosial kita sebagai manusia. Penghafal Alquran pun di dalam kesehariannya akan mengalami fase-fase futur, malas, tidak bersemangat dsb. Hal itu akan mendorongnya untuk mencari komunitas penghafal Alquran agar memicu kelesuan yang dialami. Saling berpacu dalam melantunkan ayat-ayat Tuhan, dan saling menasihati dalam kebaikan.

Anda akan mendapati banyak keutamaan-keutamaan dalam salat berjemaah dan menghafal Alquran dari berbagai sumber, baik itu Alqan, Hadis Nabi Sallallahu ‘alayhi wa sallama, perkataan para ulama dan lain sebagainya. Namun apalah arti jika dengan seribu motivasi kita tetap saja tidak berniat untuk memulai perkara baik ini sejak saat ini.

Sebuah pohon akan tumbuh sedari benih, kemudian menjadi tunas, lalu menjadi ranting-ranting mungil, selanjutnya menjadi dahan dan ranting yang kuat. Mengarahkan ranting-ranting tadi disaat ia sudah kokoh adalah tindakan yang kurang bijak. Disaat si pohon berusia mudalah ia seharusnya diarahkan. Bagi anda para pemuda yang bersemangat ataupun tidak, saat ini adalah momentum yang baik untuk belajar beristiqmah. Tidak ada alasan untuk menunda-nunda hingga dahan dan ranting umur kita yang akan terus menua dari hari ke hari, bahkan dari detik ke detik.

Hukum kausal (sebab dan akibat) paling tidak bisa mengajarkan kita, bahwa apa yang kita usahakan dimasa muda, akan terus menjadi kebiasaan hingga waktu senja. Bagaimana prosesnya berlangsung, akan mendatangkan hasil yang tidak jauh dari proses itu juga.

Semoga bermanfaat, mohon maaf atas kekurangan.


* Disarikan dari Majelis Fajar MAQURAA Mesir (dengan sedikit revisi dan penambahan pada ungkapan-ungkapan tertentu)

Foto Ilustrasi: Google

Post a Comment

Start typing and press Enter to search