Sunday, March 12, 2017

Sejarah Berdirinya MAQURAA

Besarnya antusias Masisir di dalam mempelajari ilmu al-Quran dan Qira`at menginspirasi Ustaz Arief Wardhani untuk mendirikan sebuah lembaga yang berkhidmah terhadap ilmu al-Quran dan menciptakan sebuah komunitas Quran. Maka pada tanggal 22 Juni 2009, didirikanlah sebuah lembaga yang bernama Majelis Quran Abu Amru Abbas Akkad atau yang lebih dikenal dengan sebutan MAQURAA. Namun sebelum berdirinya  MAQURAA  secara resmi, beliau sudah aktif memberikan bimbingan di HMQ (Halaqah Mudzakarah Quran), sebuah badan otonom di bawah naungan IKPDN (Ikatan Keluarga Pesantren Darunnajah) dengan program intensif Tajwid, Tahfiz Quran dan kajian keislaman. Hal itu beliau lakukan sejak awal kedatangannya di bumi Kinanah ini.

Pada awalnya, hanya beberapa kalangan mahasiswa yang datang ke kediaman Ustaz Arief Wardhani di Abbas al-Aqqad untuk menambah hapalan dan memperbaiki bacaan di hari selain hari wajib HMQ. Mereka adalah anggota IKPDN dan beberapa mahasiswa lainnya. Namun seiring berjalannya waktu, mahasiswa yang belajar dan menimba ilmu kepada Ustaz Arief Wardhani semakin bertambah banyak. Tidak hanya berasal dari IKPDN saja, tetapi juga berasal dari luar IKPDN. Bahkan non Indonesia seperti Belanda, Prancis, Maroko, Malaysia, Pakistan dan Mesir yang turut meramaikan kediaman beliau dengan al-Quran. Kegiatan mengajar ini beliau lakukan disela-sela waktu kuliah dan talaqqi al-Quran kepada para masyâyikh diberbagai penjuru Kairo.

Akhirnya, berkat kesabaran dan kegigihan Ustaz Arief Wardhani, berdirilah MAQURAA  sebagai wadah yang menampung komunitas yang haus akan ilmu-ilmu al-Quran. Komunitas yang hanya diisi oleh para pecinta al-Quran. Sebuah badan otonom yang mewadahi kegiatan tahfiz dan tahsin al-Qur’an di kalangan Masisir.

 Melalui MAQURAA, beliau membuka program belajar tahsin dan tahfiz qirâ`ât. Di sana seseorang bisa mempelajari qirâ`ah selain qirâ`ah Imam 'Ashim riwayat Imam Hafsh (qirâ`ah yang biasa dipakai orang Indonesia ketika membaca Al-Quran) baik yang sudah menyelesaikan hapalan 30 juz atau pun yang belum. Karena jika belajar qirâ`ât langsung dengan syekh Mesir, seseorang harus sudah menuntaskan hapalan 30 juz terlebih dahulu, berbeda dengan MAQURAA. Asalkan pelajar tersebut mempunyai keinginan dan tekad yang kuat, MAQURAA akan menerima dan membolehkannya mempelajari ilmu Qira`at.




Post a Comment

Start typing and press Enter to search