Friday, March 24, 2017

Siapa yang disebut Al-Qori itu?

Teringat pada awal-awal tahun 2000-an, setiap kali berkunjung ke Toko Buku Walisongo di Bilangan Kwitang Senen Jakarta Pusat, saya tak pernah melewatkan untuk melihat koleksi terbaru kaset murattal yang dipajang di lantai dua, khususnya murattal qari timur tengah. Selain itu dijumpai juga  kaset-kaset tilawah berlabelkan qari nasional dan qari internasional. Saat ini kalaupun berkunjung ke sana sudah tidak dijumpai lagi dalam bentuk kaset. Sebagai orang yang baru semangat-semangatnya belajar Al-Qur’an, qari-qari tersebut dijadikan qiblat dalam membaca Al-Qur’an.

Bukan rahasia lagi, diantara kita pun pasti banyak yang mencoba meniru-niru nada murattal qari tertentu, bahkan sebisa mungkin sama persis dengan qari tersebut. Tidak ada salahnya memang, dan wajar jika sebagai pemula belajar dari bacaan yang sudah ada. Dalam benak pun pastilah terpikir mereka itu para qari hebat karena sudah mendunia.  Siapa yang tak ingin seperti mereka, sebut saja Syeikh Abdurrahman As-Sudays Imam Besar Masjidil Haram yang sudah sangat familiar di telinga kaum muslimin seantero dunia. Namun sudah tepat dan cukupkah cara seperti itu?

Istilah qari sebenarnya tidaklah asing di telinga kita. Kita pernah mendengar istilah qari kabupaten, qari propinsi dan qari nasional, bahkan qari internasional.  Apalagi acara bergengsi semisal MTQ yang sudah dikenal luas lebih 40 tahun sejak digagas oleh KH. Muhammad Dahlan Menteri  Agama era 70-an terus bergulir hingga hari ini. Seleksi berjenjang mulai tingkat kecamatan hingga tingkat nasional, bahkan di level dunia internasionalpun juga diadakan.

Tujuan utamanya sangat baik dan patut diapresiasi, yaitu untuk menyaring prestasi dan bakat seni keislaman khususnya yang berkaitan dengan Al-Qur’an serta lebih jauh lagi bertujuan memasyarakatkan Al-Qur’an. Tapi fakta yang didapatkan, justru terkesan menjadi ajang adu prestise antar daerah dan mengesampingkan pengkaderan yang semestinya harus diadakan. Tak jarang seorang qari tahun ini mewakili kabupaten A, pada musabaqah berikutnya mewakili kabupaten B. Sudah tepatkah cara ini menjadi media pembentuk qari qariah handal yang bisa dijadikan tuntunan dalam membaca Al-Qur’an khususnya? lebih sederhana lagi siapa sih sebenarnya yang pantas disebut qari itu?

Jika ditinjau dari prespektif etimologi, kata qari merupakan bentuk fa’il (pelaku)  dari verba transitif qara’a (membaca), sehingga ketika menjadi nomina, bermakna pembaca. Dengan demikian,  secara umum siapapun pembaca Al-Qur’an akan disebut qari.    Imam Badruddin Az-Zarkasyi (745 – 794 H.) dalam Al-Burhannya tak kurang menyebutkan sepuluh kali kalimat al-qari yang bermakna umum, dan hanya beberapa yang bermakna khusus.

Al-qari’ dalam makna khusus, Imam As-Suyuthi (849 – 911 H.)  menjelaskan bahwa al-qari’  merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut tujuh imam  qiraat yang masyhur atau imam qiraat selain tujuh imam tersebut. Pendapat ini merujuk pada istilah  yang digunakan oleh ulama qiraat pada umumnya ketika menyebutkan nama dan isnad para qurra’ dari setiap negeri beserta para perawinya masing-masing, misalnya saja yang digunakan oleh Imam abu Amr Ad-Dani (wafat 444 H.) dalam At-Taisir dan Jami’ul Bayan.
Demikian juga Imam Asy-Syatibi (wafat 590 H.) dalam mandzumahnya dengan jelas menyebutkan  :

جَعَلْتُ أَبَا جَادٍ عَلَى كُلِّ قَارِئٍ
دَلِيْلًا عَلَى اْلمَنْظـُوْمِ أَوَّلَ أَوَّلَا
Aku jadikan huruf abjad sebagai tanda (rumus) setiap qari dalam mandzumah ini satu persatu.

Pendapat inipun diamini dan diikuti oleh generasi setelahnya seperti Syeikh Zarqoni, Manna’ Al-Qothon dan lainnya.

Sementara itu Syeikh Ali Adh-Dhabba’ (wafat 1380 H.)   Syeikhul Qurra’ Mesir era 50-an menjelaskan lebih dalam lagi siapa al qari itu? Dalam kitab beliau Al-Idho’ah fi bayan  Al-Ushul Al-Qiraah disebutkan bahwa yang disebut al qari adalah mereka yang telah membaca jama’ qiraat dengan  hafalan Al-Qur’an sempurna 30 juz. Selanjutnya al qari terbagi dalam tiga tingkatan. Pertama, Al Mubtadi’, yaitu mereka yang telah membaca ifrad (riwayat perriwayat) sampai dengan tiga riwayat. Kedua, Al-Mutawassith, yaitu mereka yang telah membaca empat sampai lima riwayat. Ketiga, Al-Muntahi, yaitu mereka yang telah mengetahui dan membaca qiraat lebih banyak dari lima riwayat dari qiraat-qiraat yang masyhur.

Dari dua pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa pendapat pertama yang dikemukakan oleh Imam As-Suyuthi mengkhusukan sebutan al-qari hanya disandangkan untuk para imam qiraat saja, sehingga sudah menutup kemungkinan selain dari para imam tersebut. Sedangkan pendapat Syeikh Ali Adh-Dhabba’ menyiratkan  masih terbuka bagi siapapun yang sungguh-sungguh dalam mengambil riwayat dari para masyayikh pantas  disebut al-qari.

Mulailah dari memperbaiki bacaan,berikan hak-hak setiap huruf Al-Qur’an, kenali makhraj, sifat, dan kaidah-kaidah lainnya sembari terus mematangkan kualitas hapalan. Kalaupun belum hapal 30 juz, setidak-tidaknya jadilah pembaca atau qari  Al-Qur’an yang mutqin bacaan dan menjaga adab terhadap Al-Qur’an. Maka, sangat dianjurkan setidaknya pernah membacakan  Al-Qur’an di depan orang yang sudah itqon bacaannya, syukur-syukur di depan orang yang sudah bersanad, sebagaimana sunnahnya bahwa Al-Qur’an didapatkan dengan talaqi dan musyafahah (face to face).


Tentu, disamping itu niat harus selalu diluruskan setiap saat, kapanpun dimanapun dan bagaimanapun. Mengaji Al-Qur’an, menghafalkannya dan mengamalkan kandungannya harus didasari dengan kesadaran penuh, ikhlas lillahi ta’ala mengharapkan rahmah, hidayah dan kemudahan dari Allah semata. Bukan untuk sum’ah, riya’, sanjungan dan lain sebagainya. Wallahu muyassir.

Oleh: Ust Arief Wardhani


Foto Ilustrasi: Goggle

Post a Comment

Start typing and press Enter to search