Sunday, January 14, 2018

Direktur MAQURAA Mesir: Mau menjadi penghapal Al Qur’an harus siap dengan konsekuensinya

Maquraamesir.com-Bersama Persatuan Alumni Al Azhar Internasional, PPMI Mesir menyelenggarakan seminar ilmiah bertajuk Zaahera Road to the Future. Seminar yang merupakan motivasi dan pemantapan tujuan bagi mahasiswa baru Indonesia tahun 2018 ini dilaksanakan pada Senin-Selasa, 8-9 Januari 2018  di Aula Fakultas Farmasi Al Azhar Putri Nasr City Kairo, menghadirkan para pembicara berpengalaman di berbagai bidang, seperti: kepenulisan, bahasa Arab, bahasa Inggris, akademik, maupun tahfidz Al Qur’an.
Di hadapan ratusan mahasiswa baru, Direktur MAQURAA Mesir Ust. Arief Wardhani, Lc., M.Hum. sebagai pembicara terakhir pada hari kedua ini membuka sesi dengan pertanyaan, “Mau menjadi penghapal Al Qur’an, apa konsekuensinya?” “Murajaah”, kompak gemuruh seluruh hadirin menjawab. “Kapan?” tanya Ust. Arief lebih lanjut. “Seumur hidup”, jawab mahasiswa baru.
Selama satu jam kurang lebih, Ust. Arief menyampaikan pengalamannya dalam mengapal Al Qur’an dan belajar qiraat. Pada umumnya, penghapal Al Qur’an akan menjalani tiga tahapan dalam proses menghapal.
Pertama, tahap persiapan, meliputi: meluruskan niat lillahi ta’ala, memperkuat dengan peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah, membersihkan hati dari segala yang membebani, mempelajari adab membaca dan pelajar Al Qur’an, mengetahui fadhilah membaca dan menghafal alquran, belajar dari biografi (sirah) para penghapal Al Qur’an, memperbaiki bacaan terlebih dahulu, dan menjaga stamina dan kesehatan.

Kedua, tahap menghapal, diantaranya: menggunakan satu mushaf tidak berganti-ganti, menyetorkan hapalan kepada guru yang mutqin, dibaca dan dihapal sebanyak mungkin, memilih waktu yang tepat untuk menambah hapalan, melancarkan bacaan ke teman terlebih dahulu sebelum ke guru, dan ditunjang dengan terjemah serta tafsir Al Qur’an.
Ketiga, tahap menjaga hapalan, ini merupakan tahap terberat dan terlama. Diantaranya: mempraktikkan bacaan dalam salat, memiliki partner dan lingkungan kondusif untuk mengulang, memperhatikan ayat-ayat yang mirip (mutasyabihat), menyusun dan konsekuen dengan jadwal hapalan baru dan hapalan lampau,  menulis kembali hapalan, menjadi guru tahfidz bagi yang lain, dan yang terpenting juga mengamalkan isi kandungan Al Qur’an.
Lebih lanjut Ust. Arief menegaskan bahwa banyak teori atau cara menghapal ditemukan dan sudah disampaikan banyak orang, namun intinya berpulang kembali kepada masing-masing untuk siap terhadap konsekuen menghapal Al Qur’an, yaitu :” Hifdzul Qur’an muraja’atuhu. Menghapal Al Quran itu murajaahnya.” tutup Ust. Arief.

Post a Comment

Start typing and press Enter to search