Thursday, January 25, 2018

Santri MAQURAA; Antara Ujian Al-Azhar dan Hafalan Alquran


Ujian merupakan penentu kenaikan ke tingkat berikutnya. Itulah mengapa Desember dan Januari setiap tahunnya seluruh mahasiswa Al-Azhar disibukkan dengan ujian. Selain bahasa yang menjadi salah satu tantangan, sebagian mahasiswa juga merasa dihantui oleh banyaknya materi yang akan diujikan. Wajar saja hari hari mereka dihabiskan untuk membaca, memahami dan menghafal diktat kuliah.

Dibalik kesibukan mempersiapkan ujian, Santri MAQURAA memiliki rutinitas yang tidak bisa ditinggalkan. Mereka diajarkan untuk konsisten mengulang hafalan Alquran. Tentunya tidak seefektif di hari-hari selain ujian, seperti yang dirasakan oleh Dery Ferdian salah satu hafidz MAQURAA. “Setiap hari harus mencari waktu untuk mengulang hafalan lima juz selama ujian berlangsung sekalipun tidak seefektif di luar waktu ujian", tegas mahasiswa yang sedang duduk di tingkat II Syariah.

MAQURAA sangat mempedulikan kesuksesan akademis para santrinya. Oleh karena itu,  dua bulan sebelum ujian, diadakan bimbingan belajar yang diampu oleh santri senior yang sedang duduk di program pasca sarjana Al-Azhar. Bimbingan ini bertujuan membantu mahasiswa baru untuk mempermudah dalam memahami pelajaran yang akan diujikan. Hal ini diamini oleh Muhamad Syadidul Isytihar, salah satu santri MAQURAA mahasiswa tingkat satu Fakultas Ushuluddin. Ia merasa sangat terbantu dengan adanya program bimbingan belajar. "Saya sangat terbantu dengan adanya bimbel di MAQURAA, sehingga bisa meringankan saya dalam memahami diktat-diktat kuliah," tuturnya ketika diwawancarai oleh kru maquraamesir.com.
            Ketika waktu ujian, MAQURAA menonaktifkan tasmi’ hafalan untuk santri-santrinya yang sedang ujian, namun tidak serta merta meninggalkan hafalannya. Selalu bersama Alquran dengan membaca dan mengulangnya merupakan kebutuhan rohani yang sama pentingnya dengan makan yang merupakan kebutuhan jasmani.
             Hafalan bukan menjadi beban bagi santri-santri MAQURAA, bahkan sampai mengganggu selama masa ujian. Justru Syadid (santri MAQURAA -red) menyatakan bahwa dengan mengulang hafalan di waktu ujian bisa memudahkan belajar, memberi dorongan tersembunyi di dalam hati. Tidaklah sama antara orang yang senantiasa menjaga hafalannya dengan yang enggan menjaganya.
Bisa ditarik kesimpulan, tidak selamanya ujian hanya tentang kepintaran. Adanya kedekatan hubungan antara hamba dengan Sang Pencipta menjadi faktor terbesar dalam meraih kesuksesan ujian. "Jangan cari lingkungan yang bisa membuat anda nyaman dalam belajar, tapi carilah lingkungan yang bisa mendekatkan kepada Allah Swt. Karena lingkungan yang bisa mendekatkan kepada Allah Swt., pasti bisa membuat nyaman dalam belajar. Tapi lingkungan yang bisa membuat nyaman belajar belum tentu bisa membuat dekat kepada Allah Swt.," tutur panjang lebar Dery Ferdian menyikapi antara ujian Al-Azhar dan menjaga hafalan Alquran.

Post a Comment

Start typing and press Enter to search