Friday, March 23, 2018

Bedah Tesis "Faidhul Barakat fi Sab’il Qiro’at" oleh Direktur MAQURAA




Pada hari Ahad, 18 Maret 2018 bertempat di Aula Griya Jawa Tengah, Hayy Asyir, telah berlangsung kegiatan bedah tesis dari Ust M. Agus Salim, Lc., MA., yang berjudul “Faidhul Barakat fi Sab’il Qiro’at karya KH. Muhammad Arwani Amin Said Kudus, Jawa Tengah”, yang juga dihadiri oleh Ust Arif Wardani, Lc., M.Hum, Al Hafidz, Direktur Majelis Quran Abu Amruu Abbas El Akkad (MAQURAA) sebagai pembedah tesis. dan Ust. Sugeng Heriyadi Nurhadi, Lc., MA. sebagai Pembanding Tesis, yang merupakan Kandidat Doktor Jurusan Bahasa di Universitas Al Azhar Asy Syarif, serta dimoderatori oleh Ust. Ali Irham, Lc, Dipl.

Kegiatan bedah tesis ini dimulai pada pukul 16.30 dan berkahir pada pukul 22.30, dan dihadiri oleh banyak warga masisir dari berbagai fakultas dan jurusan.
Dalam pembukaan acara tersebut,Ust.Ali Irham Lc. selaku moderator memperkenalkan terlebih dahulu profil singkat dari setiap pemateri kepada para hadirin.
Setelah pembacaan profil singkat tersebut, Ust M. Agus Salim, Lc., MA. Selaku penulis tesis Mulai menjelaskan secara singkat tentang apa yang telah beliau tulis dan alasan kenapa beliau mengangkat kitab Faidhul Barakat fi Sab’il Qiro’at karya KH. Muhammad Arwani Amin Said sebagai bahan tesis beliau.
Sebelum beliau lebih lanjut membahas tentang tesisnya, beliau mengawali pembicaraan tersebut dengan bercerita tentang sejarah kegigihan KH. Muhammad Arwani Amin Said Kudus (pendiri pondok pesantren yanbu’ul qur’an kudus,jawa tengah) dalam mencari ilmu dari berbagai kota yang ada di jawa tengah, terutama dalam mencari ilmu tentang qira’ah sab’ah.
Menariknya lagi adalah bahwa kitab Faidhul Barakat fi Sab’il Qiro’at yang sekarang begitu dikenal manfaatnya oleh para penuntut ilmu al-Quran Indonesia tersebut beliau selesaikan penulisannya ketika masih mondok di salah satu pesantren di Jawa Tengah.
Setelah penjelasan tentang kyai Muhammad arwani ,beliau menjelaskan bahwa salah satu Sunnah ulama terdahulu adalah mencatat penjelasan ilmu dari kyai, memahami penjelsan secara utuh dari segala sisinya, dan pada akhirnya dapat menjelaskan secaea lebih terperinci (Syarh) dari penjelasan kyai.
Ustaz Agus Salim menjelaskan bahwa kitab yg beliau syarh adalah kitab pertama di dunia yang menjelaskn secara apik tentang taktis belajar qiraah sabah.
Dilanjut oleh ust arif wardani sebagai pembedah tesis. Beliau menjelaskan dalam pertemuan tersebut tentang sejarah qiraah sab’ah, qiraah asyrah kubra dan sughra serta ulama-ulama yang faqih dalam bidang qiraat seperti Imam Hafs, Imam Syubah, Imam Hamzah dan yang lainnya.

Dalam pembicaraannya, beliau menjelaskan bahwa sanad yang bersambung kepada Rasulullah saw. dalam periwayatan al-Quran adalah pilihan bagi umat islam dalam qiraah yang akan ia baca. Dengan kata lain, di dalam ilmu qiraah tidak ada unsur ijtihad di dalamnya. Semuanya (al-Quran dengan segala model bacaannya) telah selesai pada masa Rasulullah saw. juga di dalam pemilihan salah satu qiraah tidak dibenarkan mencampurkan satu thariq dengan yang lain.
Menyinggung tentag tesis yang sedang beliau bedah, beliau banyak memuji karya tersebut dan merekomendasikan kepada para hadirin untuk menjadikan tesis tersebut sebagai salah satu referensi belajar ilmu qiraat sabah.
Dilanjut pembicaraan tersebut oleh ust sugeng sebagai pembandinng tesis.di awal pwmbicaraannya, beliau banyak membahas tentang keagungan bahasa al-Quran serta uslub balaghiyahnya.
Beliau menjelaskan bahwa dengan mempelajari ilmu qiraat, kita dapat mengambil faedah dari segi fikih, aqidah, dan ilmu-ilmu yang lainnya. Disamping itu, kitapun dapat mengetahui rahasia-rahasia keagungan al-Quran secara lebih mendalam.
Beliau juga membahas tentang guna tawjih dan tahqiq dalam pembuatan karya tulis. Yaitu sebagai dalil penguat atas pemaparan materi yang dibahas pada karya tulis tersebut. Selain itu beliau sebagai pembanding juga menyebutkan sedikit kritik atas tesis tersebut. Di antaranya adalah di bagian awal tesis, penulis mengucapkan ungkapan terimakasih tanpa mencantumkan nama guru beliau sekaligus pengarang kitab faydhul barakat fi sab’il qiraat (kyai arwani),dan juga pada bagian kesimpulan, penulis hanya mencantumkan dua kelebihan kitab tersebut dari total sembilan belas point, selebihnya membahas kelebihan tesis yang beliau tulis.
Atas kritikan tersebut, sejatinya Ustaz Agus menyadari betul adanya kekurangan pada karyanya. Dengan segala kerendahan hati, beliau memaparkan penjelasan yang cukup padat dan lugas atas kritikan dari pembanding.

Setelah selesai menanggapi kritikan dan menjawab 3 pertanyaan dari perwakilan hadirin, sampailah di penghujung acara yang diambil alih oleh master of ceremony untuk menutup acara tersebut.

Beberapa pelajaran yang bisa kita ambil diantaranya:

1. cara membaca al-Quran dan semua macam model bacaannya telah ada ketika Rasulullah saw. masih hidup. tidak ada istilah awla, arjah dan semacamnya. yang ada hanyalah memilih satu dari sekian banyak model bacaan al-Quran.
2. al-Quran diturunkan dengan sastra bahasa yang begitu tinggi. tak heran jika semakin orang paham akan bahasanya, semakin banyak rahasia-rahasia dahsyat yang didapat dari al-Quran.
3. Salah satu sunnah ulama terdahulu adalah mempelajari kitab karangan gurunya, lalu dipahami sebaik mungkin, dan diperjelas dengan syarh-syarh yang lebih terperinci dan mudah dipahami.
4. Salah satu bagian penting dalam membuat karya tulis adalah menyertakan tawjih dan tahqiq guna memperkuat penjelasan yang ada di dalam karya tersebut.
5. Selalu doakan masyayikh dan semua guru-guru kita, agar berkah ilmu tersebut sampai kepada kita semua.

Sekian dan terimakasih.
(red. Humam)

Post a Comment

Start typing and press Enter to search