Sunday, September 9, 2018

Muraja’ah Jangan Terburu-Buru, Begini Pesan Ustaz Arief Wardhani



Semakin banyak orang hafal Al-Qur’an di Indonesia, mutqin, kemudian dikembangkan dengan mempelajari ilmu-ilmu islam lainnya, maka akan semakin banyak lahir para ulama dari sana.

Ustaz Arief Wardhani, Lc., M.Hum., menyampaikan hal tersebut dalam kunjungannya ke Pondok Tahfiz Askar Kauny di Giza, Kairo, Jum’at(7/8). Dalam kunjungan tersebut, beliau memberikan motivasi kepada para santri untuk lebih semangat menghafal dan mempelajari Al-Qur’an.

“Saya teringat perkataan guru saya, 10 tahun yang lalu, bahwa Mesir ini mulia karena Al-Azhar. Dan Al-Azhar sendiri sejak dahulu hingga saat ini tetap eksis dan bertahan karena para penghafal Al-Qur’annya.” ujar beliau mengutip perkataan salah seorang gurunya, Dr. Ahmad Umar Hasyim mantan Rektor Universitas Al-Azhar.

Ustaz Arief kemudian menjelaskan bahwa para penghafal Al-Qur’an sudah memesan tiket masuk surga. “Maka jangan ada mantan islam, mantan haji, dan juga mantan penghafal Al-Qur’an. Karenanya silahkan dikhatamkan sampai selesai dan dijaga tiket tersebut selamanya,” imbuhnya.

Di Indonesia saat ini menghafal Al-Qur’an mulai menjadi tren. Sayangnya banyak orang ingin segera menikmati hasil tanpa memperhatikan proses. “Esensi menghafal Al-Qur’an ialah menjaga atau muraja’ah. Bukan terburu-buru menyelesaikan. Maka proses muraja’ah seharusnya dapat dinikmati,” terangnya.

Dalam muraja’ah, sambung ustaz Arief, sebaiknya dilakukan pelan-pelan dengan mempraktikkan hukum tajwidnya. “Sesekali cobalah muraja’ah dengan nada datar dan pelan. Agar lebih kuat letak ayat dan tidak bergantung pada nada,” tambahnya sambil menceritakan bahwa banyak orang yang membaca cepat, ketika diminta menjadi imam kacau bacaannya.



Beliau lalu bercerita suatu ketika pernah menyetorkan hafalan matan Syathibiyyah kepada Syekh Ahmad Abdul Ghani, lalu diminta menyetorkan mundur atau dari belakang. “Ini berdampak pada kuatnya hafalan kita. Jika terburu-buru saya yakin tidak bisa. Alhamdulillah di MAQURAA sistem ujian juz kami buat kurang lebih semacam ini,” imbuh ustaz pemilik 14 sanad qiroat tersebut.

“Antum dapat tilawah satu minggu khatam sudah luar biasa. Jadikan bacaan Al-Qur’an sebagai wirid. Jadi sudah membayangkan seolah-olah telah menjadi penghafal Al-Qur’an yang dapat khatam seminggu sekali,” ucapnya.

Kalau sudah terbiasa, lanjutnya, dimana saja kita berada Al-Qur’an akan selalu menagih kita. Seperti ada yang kurang jika tidak membacanya. “Tapi jika kita tinggalkan Al-Qur’an namun rasanya biasa-biasa saja, perlu kita tanyakan diri kita sendiri. Sejauh mana kita dekat dengan Al-Qur’an?” tandasnya.

Mengakhiri motivasi, ustaz Arief memberikan clossing statement menarik. “Al-Qur’an adalah pekerjaan dunia nyata. Oleh karenanya, jangan sibuk dengan dunia (maya) yang tidak nyata,”
(HidanulA/Red.)

Post a Comment

Start typing and press Enter to search