Saturday, September 8, 2018

Pesan Empat Penghafal Baru MAQURAA



MAQURAA kembali lahirkan penghafal al-Qur’an baru. Tidak tanggung-tanggung,  santri yang telah menyelesaikan hafalanya berjumlah empat orang sekaligus. Mereka adalah M. Ittihafussadatil Muttaqin (hafiz ke-62), Ahsanur Rifqi, S.Pd.I., Dipl. (hafizh ke-63), Muadzah Nurul Azizah (hafizah ke-64), dan Mirna Risafani Selian (hafizah ke-65).

Sebagai bentuk rasa syukur, MAQURAA menggelar Tasyakuran dan Khataman 30 Juz Al-Qur’an Qira’at Ashim Riwayat Hafs oleh keempat hafiz dan hafizah tersebut. Acara tersebut diselenggarakan di Rumah MAQURAA VI, Abbas El Akkad, Jum’at(31/8).

Dalam acara tersebut keempat hafiz dan hafizah berbagi pengalaman menghafal Al-Qur’an sampai akhirnya dapat selesai. Mereka menyampaikan kesan dan pesan kepada santri MAQURAA lainnya agar lebih semangat dalam menghafal Al-Qur’an.

Menurut M. Ittihafussadatil Muttaqin kunci menyelesaikan hafalan Al-Qur’an ialah istiqomah. “Semua memang butuh proses. Empat tahun saya menghafal Al-Qur’an. Walaupun setiap setor hanya satu halaman, saya mencoba istiqomah dan akhirnya selesai juga,” ujar laki-laki yang akrab disapa Muhis tersebut.

Kakak kandung Muhis, Zam-zam, berterimakasih kepada MAQURAA yang telah membantu mewujudkan impian orang tuanya. “Akhirnya wasiat bapak kami agar Adik Muhis ini bisa selesai hafalan Al-Qur’annya telah terwujud, dan saya mengucapkan banyak terimakasih kepada MAQURAA dan ustaz Arief Wardhani,” ujarnya penuh haru ketika memberi sambutan atas pencapaian adiknya.

Sementara Ahsanur Rifqi dalam kesempatannya ia mengingatkan bahwa khatam bukanlah akhir dari sebuah hafalan, melainkan awal dari perjuangan muraja’ah kedepannya. “Justru ini adalah awal perjuangan panjang saya untuk selalu muraja’ah kedepannya,” terangnya.



Untuk melawan godaan, tambah Ahsan, kita harus memiliki pendirian kuat. “Prinsip saya, bahwa sesuatu yang sudah kita mulai, harus kita selesaikan,” tandas mahasiswa pascasarjana Universitas Liga Arab tersebut.

Dari santriwati, Muadzah juga menekankan pentingnya istiqomah dan berkomitmen dengan Al-Qur’an. “Pokoknya kita harus selalu membaca dan memutar hafalan kita, kapan dan dimanapun. Ujian Al-Azhar bukan penghalang kita untuk tetap dekat dengan Al-Qur’an, bahkan itu yang akan banyak memudahkan,” tutur santriwati peraih nilai Mumtaz tersebut.



Mirna Risafani, santriwati lainnya, mengungkapkan motivasi terkuat selama proses menghafal Al-Qur’an. “Sendiri itu tidak enak. Suatu saat kita pasti butuh pendamping. Dan sebaik-baik pendamping di dunia dan akhirat ialah Al-Qur’an,” tuturnya diiringi tepuk tangan meriah hadirin.



Acara ini dihadiri oleh Direktur MAQURAA, para pengajar, santriwan-santriwati, dan tamu undangan. Turut hadir pula beberapa mahasiswa Amerika, Nigeria, dan Mesir yang merupakan kawan salah satu santri yang menghatamkan hafalannya, M. Ittihafussadatil.



Terakhir, Direktur MAQURAA ustaz H. Arief Wardhani, Lc., M.Hum. memberi nasihat kepada para santri, baik yang telah selesai hafalannya maupun yang belum bahwa menghatamkan hafalan Al-Qur’an barulah langkah awal. “Prosesnya berlaku seumur hidup, sebab menjadi penghafal Al-Qur’an ialah perjanjian keramat kita kepada Allah seumur hidup,” tandasnya.
(HidanulA/Red.)


   




Post a Comment

Start typing and press Enter to search