Tuesday, October 2, 2018

Bincang Santai Bersama Pimpinan Ponpes Islamic Center Al-Hidayah Riau




Maquraamesir.com- Jum’at (28/9), Keluarga Besar MAQURAA mendapat kunjungan dari K.H. Muhammad Abdih, Lc., M.A., Direktur Pondok Pesantren Islamic Centre Al-Hidayah (PPICA). Kunjungan ini dilaksanakan sebelum kepulangan beliau ke Indonesia, setelah sebelumnya mengikuti pelatihan untuk para pimpinan pesantren selama tiga minggu di Ruwaq Al-Azhar, Alexandria.

Menyambut itu, MAQURAA menggelar Bincang Santai dengan Ustaz Muhammad Abdih sebagai pembicara utama. Acara tersebut dilaksanakan di Rumah MAQURAA VI Abbas El-Akkad dihadiri oleh Direktur MAQURAA, para mahasantri mukim, non mukim, dan beberapa masisir lainnya.

Ustaz Arief Wardhani, Lc. M.Hum. dalam sambutannya menjelaskan bahwa acara ini bertujuan untuk memberikan semangat baru bagi para mahasantri. “Kita selalu ingin jika ada tamu dari Indonesia, kita undang hadir bersama kita, memberikan spirit bagaimana belajar di sini, apa yang harus kita cari, dan bagaimana di Indonesia nanti. Ini sangat penting karena kita akan mengambil banyak hikmah dari pengalaman orang-orang besar,” ujar Direktur MAQURAA tersebut.

Dalam kesempatan ini beliau juga mengenalkan MAQURAA sebagai lembaga yang bergerak dalam pengajaran Alquran terutama tahfiz, tahsin, dan tajwid yang semuanya bersanad. Selain itu, beliau menyampaikan  bahwa adanya MAQURAA ialah untuk mewujudkan petuah Almarhum Grand Syaikh Al-Azhar Dr. Muhammad Sayyid Thantawi “Laisa Azhariyyan man lam yahfaz Al-Qur’an”

Acara dilanjutkan dengan tausiyah dari K.H. Muhammad Abdih. Dalam kesempatannya beliau menceritakan kembali perjuangan-perjuangannya ketika menuntut ilmu di Mesir. “Antum yang berada di Mesir ini jangan ragu dan merasa terbebani dengan kesulitan-kesulitan yang dihadapi, Insyaa Allah kalau ikhlas, semuanya berpahala dalam hitungan Allah.” tuturnya.

Beliau juga memotivasi para mahasantri agar lebih semangat menghafal Alquran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa para penghafal Alquran menyandang gelar kenabian, bedanya mereka tidak diwahyukan secara langsung.

Dalam berinteraksi dengan Alquran, lanjutnya, terdapat lima tahapan yang harus kita ketahui. “Lima tahapan tersebut ialah tafsir, ta’wil, tadabbur, istimbat, dan ta’assur. Tidak semua penghafal Alquran mampu ta’assur dengan Alquran, ini adalah anugrah Allah. Orang yang mampu ta’assur dengan Alquranlah yang menyandang gelar kenabian.” imbuh Ustaz Abdih yang juga merupakan anggota Komisi Fatwa MUI Riau.

Beliau juga mengamini perkataan Ustaz Arief tentang pentingnya sanad dalam keilmuan. “Dari dulu hingga sekarang ulama menjaga pembacaan Alquran dengan talaqqi langsung, bersambung kepada Rasulullah SAW. Ibnu mubarok mengatakan, ‘Sanad itu bagian dari agama, kalau tidak ada sanad maka orang akan bisa bicara apa saja’. Ini tidak akan kita temukan di kitab-kitab suci lainnya,” jelasnya.

Kemudian beliau bercerita tentang perhatian pemerintah daerah khususnya di Riau terhadap para penghafal Alquran. Banyak penghafal Alquran diminta untuk menjadi imam di masjid-masjid besar dan tentunya diberikan jaminan untuk melangsungkan hidup.

Mengakhiri tausiyahnya, beliau berpesan ketika pulang ke Indonesia nanti agar selalu berusaha menyebarkan Alquran di daerah masing-masing. “Bayangkan jika antum balik ke daerah masing-masing dan melanjutkan usaha menyebarkan Al-Qur’an ini, maka tidak mustahil Indonesia suatu saat nanti akan menjadi Manar Al-Quran (menara Alquran), InsyaAllah.” harapnya.



Acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian kitab karya Ustaz Arief kepada Ustaz Abdih, lalu sesi tanya jawab, dan diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ustaz Ahsanur Rifqi, S.Pd.I., Dipl. (Pahlawan/Red)



  1. Terimakasih infonya, sukses terus..
    Kunjungi juga http://bit.ly/2JqdpQ5

    ReplyDelete

Start typing and press Enter to search