Sunday, November 25, 2018

Perjuangan Mengembalikan Khitah Menghafal, Kisah Hafiz ke- 10 MAQURAA



Maquraamesir.com- Bagi seorang penghafal Alquran, memiliki hafalan yang tidak lancar ialah diantara hal yang sangat menyedihkan bahkan mengenaskan. Di dunia ini, tidak ada yang jauh lebih menyedihkan daripada dilupakan oleh Alquran itu sendiri.
Hafiz ke- 10 MAQURAA Ustaz Asep Maulana menyampaikan hal tersebut dalam sesi sharing (berbagi) di depan para mahasantri MAQURAA dan MAQURAAWATI, Kamis (22/11). Beliau bercerita kisah perjalanannya bersama Alquran dari awal dahulu sampai dipercaya memimpin salah satu pondok pesantren tahfiz di Boyolali, Jawa Tengah.
“Saya tidak seberuntung antum, SD-SMA saya di sekolah negeri. Baru tau pondok pas Aliyah. Menghafal sendiri baru mulai setelah lulus Aliyah, yakni di Isykarima,” ucap beliau mengenang masa lalunya.
Ustaz Asep Maulana datang ke Mesir tahun 2014. Berbeda dari mahasiswa Indonesia lain yang kuliah di Al-Azhar, tujuan beliau ke Mesir tidak lain hanyalah untuk menyetorkan hafalan kepada Ustaz Arief Wardhani. “Karena di Indonesia Ustaz Arief tidak dapat menerima setoran, ya saya berangkat ke Mesir. Saat itu memang itulah tujuan utama saya,” terang Ustaz asal Subang, Jawa Barat tersebut.
Atas izin Allah, selama 8 bulan beliau selesai menyetorkan hafalannya. Kemudian melanjutkan kiprah dan perjalanan kembali di Indonesia. Saat ini beliau mendapat amanah sebagai mudir (direktur) atau pengasuh Pondok Pesantren Tahfiz Qur’an Abi Umi di Boyolali, Jawa Tengah.
Menurut beliau, ketertarikan masyarakat Indonesia untuk menjadikan anaknya penghafal Alquran saat ini cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dengan tersebarnya pesantren tahfiz hampir di setiap daerah. Sayangnya, maraknya kehadiran pesantren tersebut tidak diiringi dengan adanya standarisasi hafalan yang ideal, baik dari Kemenag maupun pihak lain yang berwenang. “Misalnya satu juz idealnya dibaca berapa menit, berapa kali salah, kualitas bacaanya, dan standar lainnya yang dapat menjadi acuan setiap pesantren,” ujarnya.
Akhirnya, lanjut Ustaz Asep, setiap pesantren menetapkan standarnya masing-masing. Resikonya ada yang hanya sekedar menjual pemasaran; satu tahun 15 juz, dua tahun 20 juz, bahkan daurah sebulan khatam, tanpa memperhatikan kualitas. “Apakah program cepat selesai tersebut buruk? Tentu saja tidak, hanya saja bukan itu hakikat dari menghafal,” tambahnya.
Hakikat menghafal yaitu muraja’ah atau menjaganya. Buahnya ialah hafalan yang mutqin. Bukan berapa banyak hafalan yang telah kita setorkan, melainkan seberapa mutqin hafalan yang kita miliki. “Kalau hafalan sudah hilang, bukan lagi muraja’ah namanya. Namun menghafal baru lagi,” pungkasnya.
Beliau kemudian mengutip nasihat Ustaz Arief bahwa untuk menghafal Alquran mungkin satu atau dua tahun dapat selesai. Namun murajaah prosesnya sepanjang hidup, bahkan sampai mati. Dengan bekal itu semua, Ustaz Asep senantiasa menekankan pentingnya murajaah dan hafalan mutqin bagi para santrinya. ”Ada satu atau dua santri mutqin sudah bagus. Tetapi jika bisa satu pondok semuanya mutqin, barulah luar biasa,” ujarnya.
Berbeda dari mayoritas pesantren, ketika waktu pagi biasa digunakan untuk menyetorkan hafalan baru, di PPTQ Abi Umi justru sebaliknya. Pagi sampai sore ialah waktu murajaah, sementara menambah hafalan baru pada malam hari. Hal ini karena muraja’ah jauh lebih penting dari menambah hafalan.
Perjuangan Ustaz Asep boleh dikatakan melawan arus. Saat itu cepat menjadi standar. Ketika pesantren tahfiz lainnya sebulan dapat tiga bahkan lima juz beliau tetap mengutamakan muraja’ah.  Akibatnya, banyak protes dari orangtua santri; mengapa hafalan anak saya tidak kunjung bertambah? Dulu sudah pernah hafal, kenapa sekarang lambat? Bahkan pertentangan juga datang dari dalam pengurus pesantren sendiri seperti kekhawatiran ketertinggalan dari pesantren lain, tidak kunjung berkembang, tidak lekas mencetak hafiz, dan berbagai resistensi lainnya.
Walau begitu, beliau tetap kukuh dengan pendiriannya. “Memang berat dan butuh waktu lama karena mereka (para santri:red) juga sekolah. Tapi demi mencapai mutqin, apapun harus dilakukan dan diperjuangkan. Visi saya ialah menjadikan hafalan kembali kepada khittah sebenarnya, yaitu muraja’ah dan melancarkan,” tegasnya.
Bukan tanpa hasil, ‘gemblengan’ beliau nyata terbukti. Ketika salah satu santrinya telah selesai menghafal, ia hanya membutuhkan waktu 3 pekan untuk persiapan ujian menyetorkan 30 juz selama dua hari. Selama ujian juga tidak diberi tahu letak kesalahannya melainkan hanya dengan ketukan. Dan santri tersebut berhasil, padahal usianya masih sekelas SMP atau MTs.
“Tidak ada juz yang sulit. Yang ada hanyalah kita yang malas untuk muraja’ah,” ujarnya berpesan kepada para hadirin.
Menutup ceritanya, Ustaz Asep berharap suatu saat nanti Indonesia dapat menjadi salah satu negara rujukan tempat mengambil ijazah dan sanad Alquran selain di Timur-Tengah. “Sudah banyak sebetulnya hafiz-hafizah di Indonesia yang mutqin dan luar biasa, hanya saja belum semuanya memiliki keinginan untuk melahirkan hafiz-hafiz baru setelahnya. Semoga kelak kita mampu tidak hanya menjadi mutqin, namun turut berusaha juga melahirkan hafiz-hafiz baru yang lebih mutqin,” ucap Ustaz Asep Maulana.  (HidanulA/Red.)

Post a Comment

Start typing and press Enter to search