Wednesday, December 19, 2018

Sempat Dilema, Ini Alasan Abbas (Hafiz ke-75 MAQURAA) Memilih Menghafal Alquran

Maquraamesir.com-Pada suatu titik tertentu dalam hidup, manusia akan menyadari suatu hal dan harus memilih, akan berada dimana dan seperti apa. Hal itu akan datang seiring dengan perjalanan dan pengalaman hidup yang silih berganti datang mewarnai hidup kita.


Abu Bakar Ash-Shidiq, hafiz ke-78 MAQURAA menyampaikan hal tersebut ketika sesi sharing dalam Khataman Hafalan Alquran 30 Juz Qira’at Ashim Riwayat Hafs yang diselenggarakan di Rumah MAQURAA VI, Abbas El-Akkad, Kairo, Sabtu (8/12).





Di hadapan mahasantri MAQURAA, Abu Bakar atau yang akrab dipanggil Abbas bercerita perjalanannya menghafal Alquran. Sejak kecil ia telah berada dalam lingkungan Alquran. Orangtua Abbas menyekolahkannya di Sekolah Dasar (SD) Yanbu’ul Qur’an di Kudus, Jawa Tengah, salah satu SD yang terkenal dengan tahfiz Alquran. Diusianya yang 10 tahun, ia berhasil menghatamkan hafalan Alquran pertamanya

“Namun saya cukup menyesal. Setelah lulus SD, hafalan saya tidak saya ulang-ulang bahkan sampai lulus SMA,” ujar Abbas mengenang kisahnya.

Tahun 2013, Abbas melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar Mesir. Di negeri para nabi tersebut, ia hendak mendalami ilmu agama sampai seluk beluknya. Namun di masa awal, keinginan untuk kembali mengulang hafalan Alqurannya belum begitu besar. Kesadaran itu muncul ketika ia menyempatkan pulang ke tanah air.

“Saat itu tahun 2016. Saya pulang ke Indonesia dan ketika berhadapan dengan masyarakat, seolah saya belum memiliki apa-apa,” terangnya. Ia lalu mencoba berfikir, hal apa yang ada di Mesir namun tidak banyak di Indonesia.
Ada dua hal terlintas di benak Abbas. Agar dapat lebih maksimal mengabdi kepada masyarakat, ia harus memaksimalkan adanya talaqqi (pengajian bersama masyaikh) dan tahfiz Alquran bersanad yang memang sangat banyak dan mudah ditemui di Mesir.
Di samping itu, ia menyadari waktunya tidak lagi banyak. Untuk memperoleh keduanya dengan maksimal memang bukan hal mustahil. Tetapi akan membutuhkan waktu yang lama.     

Dalam usahanya mencari jawaban atas kegelisahan tersebut, ayah Abbas memberikan masukan. “Nak, penghafal Alquran di Indonesia itu banyak. Namun masih sedikit dari mereka yang memiliki sanad,”

Pada titik ini, Abbas merasa memang harus memilih. Karena Alquran merupakan sumber dan induk dari agama Islam, maka ia memutuskan untuk fokus mengejar tahfiz disamping ia pernah menghafalkannya ketika kecil. Selain itu, hafal Alquran juga merupakan keniscayaan bagi para penuntut ilmu syar’i. Untuk mewujudkannya, Abbas memilih MAQURAA sebagai tempat menyetorkan dan memurajaah hafalannya.

“Rasanya seperti memulai dari awal. Tidak mudah dan memang butuh waktu yang lama. Namun saya mencoba untuk menikmati proses yang ada,” kata mahasantri non-mukim asal Jakarta tersebut.


Pada 8 Desember lalu, akhirnya Abbas dapat menyelesaikan proses yang cukup panjang tersebut. Ia telah menyelesaikan hafalan Alquran 30 juznya dan mencatat namanya sebagai hafiz ke-75 MAQURAA. Dalam sambutannya ia berterimakasih kepada Direktur MAQURAA dan para muhafidz yang bersedia membantu dan meluangkan waktu untuk menyimaknya.

“Sanad memang bukan niat kita, itu hanya salah satu tujuan saja dan bukan tujuan akhir. Tujuan utama kita ialah agar senantiasa dapat selalu membersamai Alquran,” pesan Abbas. 
     
Di penghujung acara, Direktur MAQURAA Ustaz H. Arief Wardhani, Lc., M.Hum juga memberikan pesan kepada para mahasantri lainnya. “Seorang penghafal Alquran harus jujur bahwa setiap hari kualitas hafalannya terancam. Harus terus diputar dan dimuraja’ah karena menghafal Alquran bukan perkara pintar atau bodoh, namun kesungguhan atau kemalasan kita dalam menjaga kalamNya”.
 (HidanulA/Red.)
  


      
   


      
  

Post a Comment

Start typing and press Enter to search