Saturday, December 15, 2018

Mengenal Imam al-‘Allamah as-Syatibi, Sosok Di Balik Pengarang Matan Syatibi


“Coba bayangkan, seorang yang buta namun tidak hanya dapat menghafal Alquran dengan mutqin, bahkan juga mengarang mandzhumah (syair-syair) ilmu qira’at yang sangat terkenal, yang sampai saat ini masih dapat kita rasakan kedalaman ilmunya,”

Ustaz Arief Wardhani, Lc., M.Hum., menyampaikan hal tersebut di depan para mahasantri MAQURAA pada kegiatan ziarah makam para imam qira’at, Sabtu (8/12). Dalam kesempatan tersebut, mahasantri MAQURAA mengunjungi makam Imam Warsy dan Imam as-Syatibi di Muqattam, Kairo.



Tidak diragukan lagi, beliaulah Abu Muhammad al-Qosim bin Firrah bin Ahmad as-Syatibi atau populer dengan nama Imam as-Syatibi. Lahir pada tahun 538 H, nama ‘as-Syatibi’ dinisbahkan kepada kota ‘Syatibi’ di Andalusia (kini bernama Spanyol), tempat beliau dilahirkan. Menurut berbagai riwayat, Imam as-Syatibi sejak kecil tidak dapat menggunakan indra penglihatannya atau buta.

Sekalipun demikian, siapa yang menyangka bahwa laki-laki buta ini kelak namanya akan dikenang sepanjang zaman. Sejak belia ia telah hafal Alquran dan belajar qira’at kepada Abu Abdillah Muhammad bin Abi Ash. Tidak cukup itu, beliau kemudian rihlah ke Balansiyah, kota dekat tempat kelahirannya yang terkenal dengan peradaban keilmuannya. Disana Imam as-Syatibi berguru kepada Imam Ibn Huzail dan telah menghafal kitab ‘Taisir’ karya Imam Abu Amr ad-Dhani (w. 444 H).

Beliau kemudian melanjutkan perjalanannya ke Mesir. Di negeri para nabi tersebut, Imam as-Syatibi dimuliakan dan diberi penghormatan tinggi oleh pemerintah dan ulama setempat. Tidak ada yang meragukan keilmuan beliau. Kitab ‘Hirzul Amaani wa Wajhu at-Tahani’ atau populer dengan nama Matan Syatibi ialah diantara karya monumental sang Imam. Kitab ini berisi ringkasan dari Kitab ‘Taisir’ tentang ilmu qira’at karya Abu Amr ad-Dhani yang dikemas dalam bentuk qasidah (syair/puisi) sehingga lebih mudah diingat dan dihafalkan. Sampai saat ini, kitab tersebut terus dipelajari, dihafalkan, dan senantiasa diajarkan kepada para penuntut ilmu qira’at.

Imam as-Syatibi tidak hanya memakari dunia ilmu Alquran dan qira’at, beliau juga termasuk salah satu ulama maushu’i; seorang pakar dalam ilmu bahasa, menguasai ilmu fiqih, dan menghafal ribuan hadis. Diriwayatkan dari Ibnu Khalkan bahwa jika dibacakan Sohih Bukhari, Muslim, dan al-Muwatha di hadapan sang Imam, maka ia akan membenarkan dengan hafalannya (jika didapatinya kesalahan).

Walaupun buta, Allah menganugerahkan kepadanya kejernihan hati. Suatu ketika dikisahkan bahwa beliau setiap pagi selepas shalat Subuh selalu duduk bersandar menyimak bacaan Alquran para muridnya. Seperti biasanya, tidak keluar dari lisan beliau melainkan, “Silahkan membaca duluan siapa yang datang pertama, kemudian yang datang setelahnya, dan seterusnya.”

Karena beliau terkenal dengan kedalaman ilmunya, setiap orang berlomba-lomba lebih dulu datang untuk membaca. Suatu waktu seorang lelaki sengaja datang ke masjid sebelum Subuh. Tentu saja, ia ingin mendapat giliran pertama. Selepas Subuh, ketika ia telah duduk di depan sang Imam, tiba-tiba Imam as-Syatibi mengatakan, “siapa yang datang kedua, silahkan membaca duluan,”

Terang saja lelaki tersebut heran. Tidak biasanya sang Imam berkata demikian. Lelaki itu mulai cemas, kesalahan apa dalam dirinya yang menghalanginya membaca. Ia terus berfikir, sampai ketika ekor matanya melihat seorang kakek-kakek sekilas keluar dari kamar mandi, tiba-tiba ia tersadar. Lelaki tersebut dalam keadaan junub. Karena besar keinginannya untuk membaca pertama, sampai-sampai ia lupa belum sempat mandi wajib. Segera ia bergegas menuju kamar mandi menunaikan kewajibannya dahulu.

Selepas mandi, ketika lelaki tersebut mendekat ke barisan, rupanya orang yang datang kedua tadi belum selesai membaca. Sambil bertanya-tanya dalam hati penuh harap, lelaki itu tetap menunggu giliran membaca. Barulah setelah orang di depannya selesai, Imam as-Syatibi berkata, “Siapa yang datang pertama, silakan membaca sekarang..” maka mulailah lelaki tersebut membaca kepada sang Imam. Sekalipun buta, mata hatinya tidak pernah buta untuk senantiasa mengajarkan dan menjaga adab penuntut ilmu dalam berinteraksi dengan kalam Allah; suci.

Imam as-Syatibi wafat pada 28 jumadil akhir tahun 590 H di Mesir. Beliau di makamkan di Pemakaman Jabbal Muqattam, Kairo. Semoga Allah mengangkat derajat Imam as-Syatibi dan membalas segala kebaikannya. Aamiin. (HidanulA/Red.)


Post a Comment

Start typing and press Enter to search