Thursday, December 20, 2018

Sukses Imtihan Al-Azhar bersama Alquran, Mahasantri Senior Berbagi Nasihat Menjelang Ujian Termin 1


Ujian di Universitas Al-Azhar terkenal tidak mudah bahkan terkesan menegangkan. Para mahasiswa berusaha mempersiapkan sebaik mungkin menguasai muqarrar (buku diktat) yang akan diujiankan. Jangankan dengan SKS (sistem kebut semalam) seperti Indonesia, waktu 2 minggu saja terkadang tidak cukup untuk persiapan. Karenanya, hampir semua mahasiswa mulai menyingsingkan lengannya setidaknya satu bulan sebelum ujian.
Menyambut hal itu, MAQURAA mengadakan sharing bersama dua mahasantri senior berprestasi Ustaz Sulhansya Jibran, Lc., Dipl., dan Ustaz Dery Ferdian. Keduanya memberikan tips dan nasihat dalam menghadapi Ujian Termin 1 Universitas Al-Azhar yang akan dilaksanakan pada awal Januari mendatang.
“Pertama dan paling penting, tentu saja niat. Harus terus diingat, bahwa hakikat ilmu itu yang bermanfaat. Bukan yang hanya dihafalkan saja,” ucap Ustaz Sulhansyah memulai nasihatnya.
Kedua, lanjutnya, ialah cinta. Maksudnya ialah mencintai ilmu dan Alquran itu sendiri. Ketika cinta sudah hadir maka tidak ada keterpaksaan dalam belajar, bahkan prosesnya terasa nikmat. “Karena itu ulama mengatakan, ‘Ilmu tidak memberikan setengah (darinya) sampai engkau memberikan seluruhnya dari dirimu,” tambah mahasantri asal Sulawesi Tenggara tersebut.
Hal yang perlu dipersiapkan selanjutnya ialah mengenali kecenderungan diri dalam belajar. Ini sangat penting karena menentukan efektivitas kita dalam belajar. “Lebih cocok menyendiri atau berkelompok, melalui pendengaran atau cukup membaca, harus segera diketahui. Jangan sampai sudah dekat ujian baru mengetahui kecenderungan diri,” ujarnya.
Ujian di Al-Azhar bukan hanya ujian keilmuan. Justru kecintaan kita terhadap Alquran yang jauh lebih diuji. “Apakah kita masih dapat menjaga muraajaah, hafalan, dan wirid Alquran seperti hari biasa atau justru kita semakin jauh?” tambahnya memberi pesan.
Senada dengan itu, Ustaz Dery Ferdian juga berpesan kepada para mahasantri untuk benar-benar menjaga wirid Alquran terutama ketika masa ujian. Hal ini menjadi penting karena ketika seseorang meluangkan waktunya untuk Alquran, maka porsi waktu orang tersebut akan bertambah.
“Bagaimana itu? Ya itulah barokah Alquran. Mungkin saja dzohir waktu kita berkurang, namun percayalah, barokah waktu kita pasti bertambah,” terangnya.
Selama masa ujian, tambahnya, setiap orang akan menjadi rajin dan mendadak semangat beribadah. Kemudian barangkali sebagian orang akan mencibir ibadah kita yang bagus hanya selama ujian saja. “Abaikan kata orang, kalau di waktu sulit saja kita tidak mau dekat dengan Allah, bagaimana di masa-masa mudah?” ujar mahasantri asal Riau tersebut.
Walaupun begitu, yang menentukan nilai kita bukanlah apa yang kita lakukan sebelum ujian. Namun bagaimana ujian ibadah kita setelah ujian. “Apakah masih dapat istiqomah atau berhenti dengan selesainya ujian?” pungkasnya.
Menutup acara sharing tersebut, Ustaz Dery berpesan kepada para mahasantri untuk senantiasa semangat dan tetap istiqomah dalam menjaga Alquran. “Waktu itu makhluq. Dekati baik-baik sang Khaliq, tunduklah nanti makhluq,” ucapnya.
Semoga Allah senantiasa menjadikan kita termasuk dalam golongan hambanya yang dapat istiqomah menjaga dan mengamalkan kalamNya. Wafaqonallahujami’an.
(HidanulA/Red.)
  


 

Post a Comment

Start typing and press Enter to search