Thursday, February 21, 2019

Alquran sebagai Sumber Kedamaian, Pesan Kyai Syarif Rahmat



Jika ingin hidup damai sejahtera baik sebagai individu maupun dalam kehidupan bernegara, hendaknya menjadikan Alquran sebagai sumber dan rujukan utama dalam setiap pengambilan keputusan.

Dai Nasional K.H. Syarif Rahmat menyampaikan hal tersebut dalam Silaturahim dan Bincang Santai di Rumah MAQURAA VI, Kamis (7/2). Di hadapan para mahasantri, Kyai Syarif berbagi ilmu dan bercerita pengalaman dakwah di tanah air.

Beliau membuka ceramahnya dengan kisah Adam dan Hawa yang sempat hidup di surga namun diturunkan ke bumi sebab tipu daya iblis. Di bumi, keduanya pun terpisah jarak yang amat jauh. Sebagian riwayat mengatakan Adam dan Hawa berpisah selama 300 tahun, sampai akhirnya dipertemukan kembali.

'Fa talaqqo Adamu min robbihi kalimaatin fataaba 'alaih'. Bukan sekedar bertaubat, melainkan menerima langsung titah 'kalimat' taubat dari Tuhannya. Dengan 'kalimat' ini, Allah menggiring kaki Adam menuju Jabal Rahmah, menemui sang kekasih, Hawa.

Kisah ini bisa kita tarik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. "Kalau negara sudah rusak, banyak intervensi asing, disintegrasi, dan permasalahan lainnya, solusinya hanya satu: taubat nasional. Kembali kepada Allah," tutur Kyai Syarif.

Taubat ini pun bukan asal-asalan. Kita harus menjadikan kalam Allah sebagai petunjuk dan rujukan, sebagaimana taubat Adam diterima oleh Allah. 'Wa imma ya'tiyannakum minni huda fa man tabi'a hudaaya fa la khoufun 'alaihim wa la hum yahzananun' (Al-Baqarah : 38)

Ketika Alquran sudah dijadikan petunjuk, lanjutnya, maka tidak akan lagi ada ketakutan (khouf) dan kesedihan (huzn). "Kita tidak akan cemas akan masa depan dan terlalu meratapi kesedihan di masa lalu," ucap Dosen PTIQ tersebut.

Kyai Syarif kemudian menyoroti fenomena yang kerap terjadi pada masyarakat muslim, terutama dalam menerapkan sikap beragama. Menurut beliau, banyak orang menjadi setia dalam keadaan menderita, namun setelah segalanya ada, ia tak dapat lagi mengatur mata dan harta.

"Banyak orang khusyuk berdoa ketika miskin, tapi saat  diberi harta banyak, tidak lagi sempat pulang kembali," ucapnya.

Ketika itu yang terjadi, kita hanya akan semakin menjauh dari kedamaian. Ketenangan hati yang sesungguhnya, dapat diperoleh dengan menjadikan Alquran sebagai sumber kehidupan.

"Seperti kehidupan yang dinamis, kandungan Alquran juga tidak semuanya manis. Ada yang pahit, menyedihkan, bahkan mengerikan. Namun semuanya dalam lingkaran Syifaun linnas (obat bagi manusia)," tandas Pengasuh Ponpes Ummul Qurra Pondok Cabe tersebut.

Silaturahim yang juga dihadiri oleh para guru pengajar tersebut ditutup dengan doa dan foto bersama. Semoga kita dapat senantiasa menjadikan Alquran tidak hanya sebagai hafalan, namun juga sumber dan petunjuk kehidupan Aamiin.

(HidanulA/Red)

Post a Comment

Start typing and press Enter to search