Saturday, June 1, 2019

Taujihat Dr. Muhammad Sulaiman al-Ghati Ketua Lajnah Penyusunan Mushaf Libya


Menjelang 10 hari terakhir Ramadhan, keluarga besar MAQURAA kedatangan tamu istimewa. Adalah Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman al-Ghati, Ketua Lajnah Penyusunan Mushaf Alquran Libya, yang bersilaturahim dan mengikuti tarawih berjamaah bersama para mahasantri, Kamis (23/5).

Dalam kesempatan tersebut, Syaikh Muhammad al-Ghati juga memberikan nasihat dan motivasi kepada para mahasantri seputar ilmu Alquran dan berbagai keutamaanya.



Diantara poin penting yang beliau sampaikan:

1. Termasuk keutamaan seorang penghafal Alquran ialah jasadnya akan tetap utuh dalam kubur. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa jika seorang penghafal Alquran meninggal, Allah mewahyukan kepada bumi agar tidak merapuhkan jasadnya. Bumi akan berkata: bagaimana mungkin saya memakan jasadnya sementara kalam-Mu ada dalam hatinya?

2. Setiap orang yang membaca dan berusaha memahami Alquran, akan Allah berikan pemahaman dan petunjuk. Setiap orang tentu tidak sama; sejauh mana kita mengimani dan mencintai Alquran, sejauh itu pula Allah berikan kadar pemahaman kita terhadapnya.

3. Sudah selayaknya bagi seorang penghafal Alquran untuk mempelajari dan menguasai ilmu yang berkaitan erat dengan mushaf Alquran. Tiga dari yang terpenting: ilmu waqaf ibtida', ilmu rasm (penulisan), dan ilmu maqomat. Ilmu tajwid dan makharijul huruf sudah pasti kita pelajari dan banyak diajarkan, namun untuk menjadi seorang pengajar Alquran yang hakiki haruslah menguasi tiga ilmu tersebut.

4. Dari ketiganya, ilmu waqaf ibtida' ialah yang paling penting. Dengan ilmu tersebut, seorang pembaca Alquran dapat menyentuh dan mengetuk hati para pendengarnya, untuk dapat lebih menikmati dan memaknai Alquran. Membaca Alquran tanpa ilmu waqaf ibtida' ialah seperti mobil yang melaju tanpa rem; akan tertabrak dan tidak selamat.

5. Betapa pentingnya ilmu tersebut, sampai-sampai Imam Ali ra ketika ditanya tentang maksud dari tartil, beliau menjawab: "tajwidul hurufi wa ma'rifatul wuqufi".

6. Ada satu persoalan yang hampir setiap penghafal Alquran pasti mengalaminya, bahkan susah untuk berlepas diri darinya. Apakah itu? Lupa. Ketika sampai di surat sekian, surat belakangnya terlupa. Hari ini mampu setor sekian lembar, besoknya lupa tidak lancar lagi. Bagaimana mengatasinya?

7. Sungguh, hal tersebut bahkan telah disampaikan dalam hadis nabi. "Ikatlah Alquran baik-baik, karena sesungguhnya Alquran lebih mudah terlepas bahkan dari seekor unta yang terikat," Tentu saja, ada hikmah dibalik penggunaan ta'bir unta dalam hadis tersebut.

8. Telah menjadi kebiasaan bangsa Arab dan masyarakat yang hidup di padang pasir untuk menggembala unta. Dibanding yang lainnya, unta termasuk binatang paling hasas atau perasa. Jika tidak senang dengan tuannya, sekuat apapun unta diikat, pasti akan terlepas. Ketika sudah terlepas, bukan main-main, ia mampu pergi puluhan kilo sekali jalan sehingga menyusahkan tuannya untuk mencari.

Sebaliknya, ketika unta senang dengan tuannya, tanpa diikat pun ia akan menurut tidak pergi tanpa izin sang tuan. Bahkan, jika unta benar-benar telah mencintai tuannya, mau dijual atau dibeli, lalu dibawa kemanapun, ia mampu untuk kembali menemui majikan yang ia cintai.

Begitu pula dengan Alquran. Cara terbaik mengikat Alquran bukan dengan intensitas membaca maupun mengulang, melainkan dengan cinta. Ikatlah Alquran dengan rasa cinta. Ketika seseorang telah jatuh cinta, ia senantiasa ingin selalu bersama dengan yang dicintainya.
__

(HidanulA/Red)

Post a Comment

Start typing and press Enter to search