Thursday, June 13, 2019

Ustaz Ali Sadikin : Mulazamah Masyayikh Lebih Penting dari Nilai Ujian




Maquraamesir.com- Masih dalam momen Bulan Syawal, Rabu (12/6), Keluarga Besar MAQURAA dikunjungi oleh dua tamu spesial dari Indonesia. Mereka ialah Ustaz Ali Sadikin, M.Ed Direktur PTQ Al-Azhaar Ummu Suwanah Tangerang dan Abdul Wahid Wakil Ketua LDNU Tarakan. Keduanya berada di Mesir sebagai perwakilan Indonesia dalam rangka Pelatihan Imam dan Dai Internasional yang diadakan oleh salah satu lembaga internasional Al Azhar.

Selain bersilaturahim, di depan para mahasantri MAQURAA keduanya juga menyempatkan untuk memberi nasihat dan berbagi pengalaman terkait dunia dakwah masyarakat di Indonesia.

Manfaatkan Kesempatan di Mesir

Ustaz Ali Sadikin memulai ceritanya dengan berkisah awal pertama datang ke Mesir tahun 1998. Tujuan beliau saat itu ialah untuk riset atau penelitian tesis. Selama empat bulan di Bumi Kinanah, beliau berkesimpulan untuk tidak akan menyekolahkan anak cucunya ke negeri seribu menara tersebut.

Kesimpulan tersebut agaknya beliau tarik kembali, terutama setelah kedatangan di Mesir yang kedua kalinya pada 2019 kali ini. Hal ini beliau utarakan setelah berulang kali mulazamah dengan para masyayikh, bertemu para kibar masyayikh, dan ketika beberapa kali diundang dalam berbagai acara di masisir.

"Sekarang saya berubah pikiran. Kedepan, saya akan merekomendasikan anak-anak murid saya untuk belajar di Al Azhar, tapi dengan catatan: sebagaimana Mesir dapat menjadikanmu seperti Nabi Musa, ia dapat menjadikanmu seperti Fir'aun," terang Ustaz Ali yang juga merupakan salah satu pengajar senior Pondok Tahfiz Isykarima, Solo.

Karenanya, lanjut beliau, kesempatan berharga ini harus dimanfaatkan baik-baik. Sebagai mahasiswa Al Azhar, meskipun nilai itu penting, hendaknya itu tidak menjadi tujuan utama dalam belajar. Ada hal yang jauh lebih penting untuk didapatkan di Mesir; mulazamah para masyayikh.

Berbeda dengan muhadoroh kuliah, dalam mulazamah akan terjadi kontak batin antara seorang guru dan murid. Semakin kita istiqomah menghadiri talaqi syaikh tertentu, semakin terjalin ikatan batin dan cinta kita terhadap syaikh tersebut.
"Apa tanda kontak batin itu telah ada? Ketika kita ditimpa persoalan hidup yang pelik, guru kita akan hadir dalam mimpi kita, menenangkan dan memberi solusi atas permasalahan hidup kita," tambah Ustaz Ali.

Mulazamah kepada Guru

Bagi seorang penuntut ilmu, peran dan kehadiran sosok guru sangat penting. Penuntut ilmu yang sejati tidak hanya menjadikan guru sebagai tempat menimba ilmu saja. Lebih dari itu, seorang guru bagi seorang murid layaknya orang tua yang harus ditaati; wajib bagi kita untuk ta'zhim dan berbakti kepada mereka.

Oleh karena itu, seorang murid harus menjaga hubungan yang baik terhadap guru. Jangan sampai lepas ikatan dengan guru. Jangan hanya karena telah lulus sekolah atau selesai belajar, kita lantas tidak ada lagi komunikasi dengan guru kita. "Ta'zhim terhadap guru, jauh lebih berharga dari ilmu yang kita dapatkan," pungkasnya.

Ustaz Ali lalu bercerita bahwa setiap langkah hidup yang telah ia pilih, tidak terlepas dari peran seorang guru. Setiap kali dihadapkan dengan pilihan atau persoalan rumit, beliau kembali dan meminta nasihat kepada guru-guru beliau.

Sampai akhirnya beliau berkesempatan kuliah di Suriah, tidak lain karena restu dan arahan sang guru. Selama belajar, beliau senantiasa terngiang dan berusaha mempraktekkan pesan gurunya: paham tidak paham, yang penting berusahalah untuk selalu duduk paling depan.

"Barangkali sebab itu, alhamdulillah saya berkesempatan mulazamah dengan para masyayikh besar seperti Syaikh Ramadhan Al Buthi, Syaikh Wahbah Zuhaili, Syaikh Nuruddin Itr, dan yang lainnya." Tuturnya.

Suatu saat, beliau juga pernah mendapat tawaran bekerja di Kementrian Agama Banten. Lagi-lagi beliau merasa harus konsultasi dengan guru beliau. Ketika itulah, nasihat berharga yang sampai saat ini menjadi motto hidup beliau dapatkan:

'Kalau sekedar ingin mencari uang, jadilah pejabat atau pekerja pabrik. Namun jika ingin mencari barokah, jadilah pengajar Alquran. Hidup-hidupilah Alquran, Alquran akan menghidupimu. Cukup-cukupilah Alquran, maka Alquran akan mencukupimu.'

"Selama saya hidup, nasihat guru saya tersebut selalu terngiang; agar senantiasa hidup bersama Alquran dan mengabdikan diri kepadanya. Alhamdulillah, semua kebutuhan dan mimpi saya pasti terpenuhi dari arah yang tidak tersangka. Inilah barokah dan wasilah dari Alquran," tegasnya.

Begitulah seharusnya seorang murid terhadap gurunya; patuh, ta'zhim, dan melibatkannya dalam setiap urusan.

Persiapan Dakwah di Masyarakat

Ustaz Ali kemudian menyampaikan bahwa objek dakwah masyarakat Indonesia dapat dipetakan menjadi dua, masyarakat menengah ke bawah dan menengah ke atas.

Masyarakat menengah ke bawah tidak butuh gelar kita, tidak akan menanyakan strata pendidikan kita. Bagi mereka, penyampaian yang ringan, mudah dipahami, dan selingan lelucon dalam ceramah jauh lebih penting. Asal komunikatif dan menarik, insyaAllah akan mendapat tempat di hati masyarakat.

Hal ini tentu berbeda dengan masyarakat menengah ke atas di perusahaan atau perkantoran. Mereka meminta CV kita untuk mengetahui, sebarapa layak mengisi kajian di kalangan mereka. Dalam kondisi seperti ini, kita dapat menggunakan bahasa yang sedikit berat dan ilmiah. Penampilan pun harus menyesuaikan dengan jas atau formal, misalnya.

Sebagai seorang calon pendakwah, kita harus mengetahui hal tersebut. Ada psikologi masyarakat yang harus dimengerti. "Likulli maqomin maqol, wa likulli maqolin maqom. Bagi setiap kedudukan dan kondisi masyarakat, ada cara penyampaian dan pembahasan tertentu yang berbeda." Tegasnya.

Gus Wahid, diakhir kesempatannya juga menambahkan bahwa trend pesantren tahfiz belakangan banyak digeluti. Disamping banyak orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di Pondok Tahfiz, tidak sedikit pula para pengusaha kaya yang ingin memilik investasi akhirat dengan mendirikan pesantren tahfiz.

Sayangnya, seringkali keinginan mereka tidak terealisasi dengan baik karena tidak menemukan perantara yang tepat. "Maka antum jangan khawatir, sebagai seorang penghafal Alquran kelak ketika kembali ke Indonesia, akan ada banyak lapangan dakwah yang harus diisi dan dikembangkan, demi Indonesia yang lebih baik," ucapnya.

Acara silaturahim tersebut kemudian ditutup dengan foto doa dan foto bersama. Semoga Allah senantiasa memudahkan setiap langkah kita. Aamiin.
(HidanulA/Red)











Post a Comment

Start typing and press Enter to search